Anugerah datang tanpa permisi, tanpa ketukan di pintumu
Mungkin karena itu, sering kau merapuh
Menganggapnya tamu tak diundang
(Pecahan kulit kerang beradu dengan butiran pasir, namun yang kita lihat satu)
Dentang di telingamu kadang tak berhenti
Dan tetap kita kokoh mengangkangi
Barisan sakit hati yang tak bisa lagi pergi
(Selembar daun bambu jatuh di atas riak air, namun yang kita dengar satu)
Seringkali kejutan menamparmu
Hingga kau juga berkelit ketika anugerah itu mengejutkan
(Dan kilau lembayung yang menggelora selalu kita rasa satu)
Lembang, 2009
No comments:
Post a Comment