Tetes-tetes pertama jatuh di pinggiran dahan yang mengelupas. Tanpa keangkuhan yang menengadah, dan tanpa lengan yang menuntut. Hanya kepasrahan yang sederhana, dan syukur yang diretas jauh ke dalam bumi. Udara yang membawanya ringan, ditumpangi seperti tanpa berat.
Tetes-tetes pertama jatuh di pinggiran dahan yang mengering. Warnanya yang bening berkilat di pucatnya kulit cokelat yang pecah-pecah. Jatuhnya tenang, tanpa teriakan yang meloncat-loncat; atau keresahan yang retak pecah. Ketika itu harum ibu bumi merekah dari tanah, menyeruak seperti berkah yang turun dari Sang Sempurna.
Tetes-tetes pertama jatuh di pinggiran dahan yang melepuh. Partikel terkecilnya mampu menjahit sel mati dan menghidupkannya kembali. Hanya sekejap, tak perlu mencuri beribu detik yang sarat dengan harapan. Dengan kelegaan yang penuh jalinannya yang rapat berkelindan dengan tetes berikutnya, dan terus begitu.
Aku terpaku di bawah atap yang tersenyum karena disiram kehidupan, sambil menatapnya dengan telinga dan papila…
Bandung, 2008
No comments:
Post a Comment