Udara dingin menyambutku, keengganan yang tak lagi ada bersamaku.
Serangkai kata di mulutku, hanya keheningan yang sama menyelimutiku.
Melanglang pikirku tak bisa kuredam, hanya separuh nyawa yang setia pada raga.
Selebihnya, langit pun tahu ibu bumi tak mungkin mencegahku., tak juga embun., atau hujan badai.
Lama aku diam, di bawah sebuah pelita yang menenangkan.. Karena terlalu damai duniaku, yang tertulis di selembar keinginan.
Langka kini apresiasi, yang tulus merengkuh ranah mimpiku..
Dan bila suatu hari nanti bumiku melandai, aku pun larut dalam ringan.. melayang..
Sahabatku, panggilanmu menyentuhku seperti embun pagi menyentuh tanah.. Lingkaran ini suatu hari akan penuh, dan kita tak lagi akan mengerti ke mana kita melangkah.
Sahabatku, hangat mentari melarutkan kita yang merajah tanah dengan impian.. Dan kesadaran pun menghanyut ditampar cita-cita..
Pada malam yang bisu aku mengecap untaian niatmu., dari sebatang tongkat kayu atau hembusan nafas yang kaku..
Dari tanah yang jauh semilir mendatangimu, untuk selaraskan asa dan sejukkan rasa..
Hanya segenggam perhatian tak mungkin ditanggalkan., dan mata yang dalam, diam telanjang..
Bandung, 2009
Serangkai kata di mulutku, hanya keheningan yang sama menyelimutiku.
Melanglang pikirku tak bisa kuredam, hanya separuh nyawa yang setia pada raga.
Selebihnya, langit pun tahu ibu bumi tak mungkin mencegahku., tak juga embun., atau hujan badai.
Lama aku diam, di bawah sebuah pelita yang menenangkan.. Karena terlalu damai duniaku, yang tertulis di selembar keinginan.
Langka kini apresiasi, yang tulus merengkuh ranah mimpiku..
Dan bila suatu hari nanti bumiku melandai, aku pun larut dalam ringan.. melayang..
Sahabatku, panggilanmu menyentuhku seperti embun pagi menyentuh tanah.. Lingkaran ini suatu hari akan penuh, dan kita tak lagi akan mengerti ke mana kita melangkah.
Sahabatku, hangat mentari melarutkan kita yang merajah tanah dengan impian.. Dan kesadaran pun menghanyut ditampar cita-cita..
Pada malam yang bisu aku mengecap untaian niatmu., dari sebatang tongkat kayu atau hembusan nafas yang kaku..
Dari tanah yang jauh semilir mendatangimu, untuk selaraskan asa dan sejukkan rasa..
Hanya segenggam perhatian tak mungkin ditanggalkan., dan mata yang dalam, diam telanjang..
Bandung, 2009
No comments:
Post a Comment