Ada yang berteriak,
lalu hening………
Ada yang menggelegar,
Lalu hening……….
Keriut wajah pagi menatapku tanpa ragu. Karena angin pun tak muncul hari ini, dan matahari enggan menampakkan wajahnya yang bulat gemuk. Keheningan muncul seperti pencuri di malam hari, di tengah hiruk-pikuk mereka yang mencari sekerat roti.
Keriut wajah pagi menatapku tanpa ragu. Dentum dan raung mesin kalah lagi oleh keheningan yang menyusup. Mereka tak pernah ragu berjalan di atasku; tidak kemarin, tidak juga hari ini. Ibu menyuruhku untuk diam dan menunggu, juga mereka, saudara-saudaraku.
Seperti kemarin, dan hari-hari yang lewat dari mimpi. Hanya sekelumit kisah yang berhasil bertahan hingga hari ini. Gelimpang mayat bercampur lumpur dari kapal-kapal pesiar, bau amis darah dari pisau para pembunuh, teriakan mereka yang terhempas ombak hingga ke gunung. Bunyi kelapa yang jatuh dari pohonnya oleh anak-anak pantai, bau harum roti pertama yang masak di panggangan, lantunan harmoni mereka yang menyapa semesta.
Tapi kilau mentari yang jatuh di kulitku tetap sama. Sejuknya butir-butir embun yang menyapaku juga sama. Sapuan angin Timur yang membawa daun kering, deras air hujan yang membuat cekungan di dagingku berkelok tajam, atau gelitik semut-semut yang mencari kehangatan. Semua sama.
Hanya pagi ini, seperti sebuah pagi waktu itu, atau pagi-pagi lain yang telah lalu. Aku melihat lingkaran di wajah ayah. Dan ibu menyuruhku untuk diam menunggu waktu. Juga mereka, saudara-saudaraku. Aku mendengar gelegar dan raungan seketika, lalu hening panjang….
Waktu bergulir, dan akupun kembali basah.
………………………………………………………………………………………………………….
(Ibu berbisik padaku… untuk diam dan menunggu. Karena semua akan berlalu, dan kami yang diam dan menunggu… akan selalu bertahan)
Lembang, Juli 2009...untuk jiwa-jiwa yang hilang di Jakarta.
No comments:
Post a Comment