Pada keanggunan malam seekor jangkrik bercerita. Tentang pagi berembun, siang yang terlalu panas, dan senja meremang yang membawa dirinya ke pelukan malam. Pada kulit kayu di bawah kait kaki-kakinya jangkrik itu bercerita. Tentang sayap yang basah, perut yang keroncongan, dan kepalanya yang tersandung tunas bambu. Pada semilir yang lewat di bawah sayapnya ia bercerita. Tentang cacing-cacing yang tinggal di seberang rumahnya, burung gereja yang kadang tak sengaja melihatnya, dan kumbang malam yang selalu menemaninya.
Pada dini hari yang sepi jangkrik itu bercerita. Cerita yang diteruskan oleh semilir, menjadi nada-nada berirama yang konstan. Cerita yang ditegaskan oleh kulit-kulit kayu, dengan derap gelombang yang menghantam getas ujungnya. Cerita yang ditampung oleh sang malam, untuk diteruskan.
Cerita-cerita yang jadi orkestra
Orkestra malam, yang tak mungkin sempurna
Yang tak sempurna, namun tetap menggelora,
Bila menggema.
Bandung, 2008
No comments:
Post a Comment