Secangkir kopi pekat hasil seduhan pertama, beberapa tarikan panjang dan hembusan ringan sebatang rokok di tangan, dan akupun siap terbangun, bangkit dari mimpi.
Mimpiku sudah terlalu panjang;mimpi-mimpi berbahasa lugas yang jadi terlalu jelas. Mimpiku sudah terlalu jelas; mimpi-mimpi tentang harapan dan cita yang tak mungkin lari dariku– dariku dan urat-urat yang menjalari tubuhku seperti penyakit kronis. Penyakit kronis yang menggerogotiku habis. Habis, sebagaimana rangkaian nada yang terngiang dalam mimpiku: tentang aku dan rasa tentangmu.
Pada suatu rangkai kala yang kita makna, mimpiku jadi cermin keangkuhan cita — antara rasa dan arogansi semata. Pada kala yang sama itu pula, aku lupa pada bahasa — dan kehilangan kata-kata. Karena seperti kau tahu, kata-kata hanya jadi malapetaka ketika terucap tanpa makna. Ketika arogansi mengemuka menjadi makna, dan kau pun tersesat di tengah aliran kata, tanpa bahasa. Dan ketika aku melihat bias dalam matamu, aku pun terpaku di tempatku, meragu dengan pikirku.
Lalu pikirku, pena sang pujangga mungkin mencapai akhir torehannya. Ingatkah aku kini tentang awal kisah yang ditulisnya? Atau aku hanya bermimpi tentang kisah yang terbaca dengan terbata-bata? Karena kini aku tak lagi melihat bedanya.
Mimpiku sudah terlalu jelas kataku — hingga membias, seperti matamu di dalamku. Seperti rasa dan pikirku — dan seperti bahasaku, semua lebur dalam inkarnasi tanpa batas. Hanya aku, kosong seperti bejana tanah liat yang baru menjadi rupa. Hanya aku, dan tinggal bahasaku yang kini menyatu. Hanya aku, dan bias kala itu — dalam pikirku.
……………………………………………………………………Lembang, 2009. Selagi mengapresiasi “Bias” (by M. Tulus) di teras belakang rumah dengan secangkir kalosi Toraja.
No comments:
Post a Comment