Semua diawali ketikamencoba melebarkan pandangan dan mencari horizon yang tepat.
Di suatu putaran menit, tawa manusia berlagu seperti yang lalu dan yang akan jadi baru.
Lagu berubah, melodiku berubah.
Karena aku bosan dengan ambitus oktaf manusia.
Nada merendah, melodi meninggi,
Karena aku muak dengan ambitus oktaf manusia.
Aku bosan dengan ambitus oktaf manusia
Maka aku pun keluar.
Di keremangan ini, hanya ada aku, dan serumpun ambitus oktaf yang luhur. Melodi yang bersahutan, mengantarku menyelami lini muai ibu bumi.
Di keheningan ini, ada ritme yang tenang tapi riuh rendah.
Aku terbuka, aku membuka pintu ke mana saja.
Aku terbuka, aku membuka semua jendela dalam ikatan atom yang kudiami selama nafas.
Aku terbuka, karena manusia tak lebih dari partikel indah yang mengalun jadi melodi.
DI buaian melodi yang lugu dan jujur ini, aku terbuka.
Dan orgasme yang sempurna tercipta,ketika aku luruh, lebur di kedalaman buaian sang ibu bumi. Melodinya yang halus, tajam dan jujur… itu yang membuatku kosong; dan sekali lagi jadi bejana.
…………………………………………………………………………………………………………..
Di kejauhan, suara mereka lirih terdengar, tak pernah menghilang. Di kejauhan, aku masih jadi bagian dari hiruk-pikuk ratio dan arogansi sebuah populasi besar yang mengaku diri: manusia.
Bandung, 5 September 2009; di sebuah kursi taman di antara siluet pinus yang diterangi purnama.
No comments:
Post a Comment