I will not walk with your progressive apes, erect and sapient...

if by God's mercy progress ever ends,

and does not ceaselessly revolve the same

unfruitful course with changing of a name.


...Then looking on the Blessed Land 'twill see,

that all is as it is, and yet made free...

~J.R.R. Tolkien~


As a fire when kindled

makes fuel into ash,

so the fire of wisdom

makes actions into ash.

~Bhagavad Gita 4:37~

Tuesday, December 13, 2011

Cinta itu Datang: Semesta Kita yang Jadi Manusia


Sama seperti sirat surya pertama di ufuk Timur,
Sama seperti retak yang muncul pada sebutir telur,
Sama seperti bulir benih yang tumbuh bertunas,
Dan sama, seperti setetes embun di gurun pasir;

Semesta menjelma menjadi rupa yang lebih bisa kita mengerti,
Menjadi makhluk yang lebih bisa dipahami…

Ia manusia, sama seperti kita,
Hadir sebagai duta cinta Bapa-Nya, di dunia…

Duduklah dengan santai, dan singkirkan semua perangkat teknologi di sekitarmu. Buat dirimu merasa lebih nyaman: mungkin dengan secangkir hangat teh atau kopi, beberapa keping kue jahe, atau sekaleng kacang yang baru diangkat dari penggorengan. Lalu pinjamkan aku 5 menit waktumu.

Cinta Hadir Tak Kasat Mata
Cinta hadir, dalam hal-hal terkecil atau rutinitas yang kita hayati dengan sungguh. Cinta hadir ketika kita bangun di pagi hari, menghayati bagaimana sebuah tarikan nafas yang sama telah membuat kita tetap hidup hari itu. Cinta hadir ketika kita menegakkan tubuh, menengadah atau membungkuk, melangkahkan kaki atau mengayunkan tangan, dan merasakan hembusan semilir di kulit kita. Cinta hadir ketika kita melihat matahari yang sama terbit lagi di ufuk Timur, menghirup bau harum tanah basah sehabis hujan tadi malam, dan mendengarkan bunyi sapuan daun kering di pekarangan. Cinta hadir dalam hal-hal yang setiap hari kita alami; setiap hari kita jumpai, setiap hari kita rasakan, dan patut kita syukuri.
 Ketika kita mampu mengapresiasi lebih dalam, dan hanyut dalam kenikmatan mengalami, merasakan, atau melakukan sesuatu; kita dapat merasakan Cinta. Karena ketika hal ini terjadi, kita mampu menghayati hidup sebagai keindahan dicintai. Ketika ini terjadi, kita akan mengenali ribuan rasa dari segelas air putih, mengecap sesendok nasi dan membedakan rasanya dengan lauk yang kita makan, mengunyah sekerat roti gandum dan menikmati butiran halus seratnya menggesek tekstur lidah kita; atau merasakan nikmatnya gula merah yang sudah lebur jadi satu dalam sepotong kue jahe.  
Cinta tak pernah kasat mata. Simbol dan tanda tentangnya terlihat di mana-mana, namun cinta itu sendiri tak pernah mengambil rupa. Cinta hadir di semesta, karena semesta adalah cinta itu sendiri. Sama seperti alam yang merupakan semesta, manusia juga adalah bagiannya; demikian juga segala yang kita buat. Maka sama seperti kita, alam juga hadir dengan keinginan mencintai dan dicintai. Semesta hadir dalam dan di sekeliling kita, untuk mencintai dan dicintai. Bila kita mampu merasakan dan menjadi bagian darinya, maka kita tidak akan lagi banyak bertanya. Hanya kadang kita lupa, atau menolak merasakan dan menjadi bagian dari semesta yang luar biasa.
Ketika kita mampu mensyukuri apa yang kita dapatkan, maka Semesta terasa. Ketika kita mampu mensyukuri apa yang kita berikan, maka Semesta terasa. Ketika kita mampu mensyukuri kehilangan kita, Semesta datang menyentuh kita.

Semesta itu Datang Menyentuh Kita
Kita adalah makhluk yang mengaku diri manusia. Kadang kita tertawa bahagia dan mengangkat dagu setinggi-tingginya, melempar arogansi di ranah-ranah yang bahkan tidak kita kenal dengan baik. Di saat dan tempat lain, kita terkapar sejadi-jadinya sambil mengeluh karena tubuh dan hati yang ringkih dan rapuh; menangis karena jumlah peluh di kening. Di sepanjang jalan-jalan yang kita lalui itu: sehat atau sakit, tersenyum atau menangis, di keramaian yang hangat ataupun sejuknya kesendirian; ada Cinta yang selalu mengikuti kita.
Semesta melingkupi kita seutuhnya. Hijaunya rumput di taman kantormu, cantiknya rujung pinus yang berjatuhan di seberang jalan, atau teduh mahoni yang berderet menuntunmu pulang. Lembut pasir yang berdesir terkena ombak di pantai, tanah hitam yang basah stabil menahan kakimu, atau kokoh cadas yang berdiri tegak di pegunungan. Belum lagi semilir yang berbisik di bawah telingamu, hangat mentari yang menerpamu di pagi berawan, atau tetes hujan pertama yang membasahi kebun apelmu.  Semesta melingkupi kita seperti selubung yang membungkus rapat, entah kita sadar atau tidak. Selubung ini tetap ada saat kita sakit, sedih, kehilangan atau merasakan kegagalan. Semesta itu pula yang tetap ada saat kita merasa sendirian, atau mengeluh karena sakit berkepanjangan.
Cinta ini, yang seringkali tidak kita rasakan, turut menangis ketika kita sedih dan tersenyum ketika kita bahagia. Semesta itu tersenyum ketika kita menyadari keberadaannya dan menangis sedih saat kita abaikan.
Di atas sana, di bawah sana, di samping sana, di belakang atau depan sana, Sang Empunya Semesta mengawasi kita juga dengan Cinta seutuh-utuhnya.
Cinta itulah yang kita rasakan dari semesta yang melingkupi kita. Dari air, nafas, hangat mentari, hingga panas api yang membakar hati kita. Bisakah kita rasakan sorot mata-Nya pada hangat mentari pagi? Atau merasakan nafas hidup-Nya pada semilir yang numpang lewat di bawah telinga? Semuanya indah di tangan-Nya, dan kadang kita hanya salah mengerti. Utuhnya Cinta ini yang memampukan kita mengecap keindahan. Utuhnya Cinta ini yang terkadang membutakan kita; yang keenakan dengan keindahan, kenyamanan, dan stabilnya rutinitas.   
Cinta yang luar biasa ini juga, yang akhirnya hadir dengan mengambil rupa. Ketika manusia kehilangan penopang yang mengingatkannya akan Sang Sempurna, ketika manusia lupa dengan misinya di dunia. Ketika manusia tak lagi bisa melihat dan merasakan Cinta karena larut dalam rutinitas dan berhenti mengenali semestanya, Semesta menyentuh dengan rupa. Semesta yang melingkupi kita itu akhirnya muncul mengambil wujud yang lebih sederhana, yang lebih bisa dimengerti oleh kita yang sulit sekali dibuat mengerti . Cinta yang mengadidaya  itu mengambil rupa manusia, sewujud dengan kita.
Ia terlahir dengan tugas di pundak-Nya. Sebagai duta Cinta Bapa-Nya di dunia, Ia menjadi manusia yang sepikir, sekuat, dan serapuh kita. Kita menanti Dia dengan rindu, menyambut-Nya dengan suka cita, mengikuti-Nya untuk mencari keselamatan, dan mengusir-Nya ketika bosan. Namun Ia tetap di sana, di sini, di dalam dan di sekitar kita. Ia tetap ada karena Ia juga adalah semesta. Karena ia adalah Cinta Bapa-Nya yang murni, kemurnian Cinta yang mewujud menjadi manusia. Ia adalah Semesta Kita, yang jadi manusia.


Bandung -  2008, setelah secangkir kopi pagi yang agak terlalu manis…
Untuk buletin BERSAMA,  St. Maria Fatima- Karmel, Lembang

No comments:

Post a Comment