I will not walk with your progressive apes, erect and sapient...

if by God's mercy progress ever ends,

and does not ceaselessly revolve the same

unfruitful course with changing of a name.


...Then looking on the Blessed Land 'twill see,

that all is as it is, and yet made free...

~J.R.R. Tolkien~


As a fire when kindled

makes fuel into ash,

so the fire of wisdom

makes actions into ash.

~Bhagavad Gita 4:37~

Sunday, November 16, 2014

Chronological Songs of My 3 Decades

  1. Your Heart Will Lead You Home - Kenny Loggins
  2. Words - Bee Gees
  3. Smile - n/a
  4. For the First Time - Kenny Loggins
  5. Fire - Des'ree/ Babyface
  6. She - Elvis Costello
  7. Mahadewi - PADI
  8. Jim Brickman - Valentine
  9. December - Kenny Loggins
  10. If You Don't Know Me by Now - Simply Red
  11. This Love - n/a
  12. If - Susan Wong
  13. Cold, Cold Heart - Norah Jones
  14. For the First Time - Rod Stewart
  15. Have I Told You Lately that I Love You - Rod Stewart
  16. Say - John Mayer
  17. The Heart of Life - John Mayer
  18. Brave - Josh Groban
  19. That's All - Rod Stewart
  20. Harmony - PADI
  21. P.E.S.A.N - discus
  22. Sunrise - Norah Jones
  23. Menari Bumi - 4 Peniti
  24. India Arie - Summer
  25. Sempurna - Jubing Kristianto
  26. Indonesia Pusaka - n/a
  27. You are Loved - Josh Groban
  28. Mirando tus Ojos - Nino Josele
  29. Hibari - Ryuichi Sakamoto
  30. Detik Hidup - Iwan Abdulrachman
  31. Energy Flow - Ryuichi Sakamoto
  32. Somos Novios - Andrea Bocelli/ Katherine McPhee
  33. Gitana - Shakira
  34. Your Body is a Wonderland - John Mayer
  35. Mizu no Naka no Bagtelle - Ryuichi Sakamoto
  36. Riverside - Agnes Obel
  37. Te Necesito - Hombres G/ Dani Martin
  38. Ramo Verde - Uxia
  39. Englishman in New York - Sting
  40. Bandung - Sundanese Healing
  41. Melati Suci - n/a
  42. Tu Gitana - Luar Na Lubre
  43. She - Il Divo
  44. I'll Stand by You - Rod Stewart
  45. Nada te Turbe - (St. Teresa de Avila)
  46. Home - John Steven
  47. A Jeanne d'Arc - Pierre Eliane
  48. La Venta del Alma - Nino Josele
  49. If You Don't Know Me by Now - Rod Stewart
  50. Gaia - Valensia
  51. Bumi Indonesia - Kahitna
  52. Morning Rain - Jubing Kristianto
  53. Make Love to Me Tonight - Rod Stewart
  54. Longer - n/a
  55. She's always a Woman - Jubing Kristianto
  56. Have I Told You Lately that I Love You - Rod Stewart
  57. December - Norah Jones
  58. Galileo - Josh Groban
  59. Little Sparrow - David Cook
  60. Si Volvieras a Mi - Josh Groban
  61. Pure Love - Rod Stewart
  62. Love Never Fails - Amy Sky/ Jim Brickman
...and a message clear to my ear:
"If I speak in the tongues of men and of angels, but have not love, I am only a resounding gong or a clanging cymbal. If I have the gift of prophecy and can fathom all mysteries and all knowledge, and if I have a faith that can move mountains, but have not love, I am nothing. If I gift all I possess to the poor and surrender my body to the flames, but have not love, I gain nothing.
Love is patient, Love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.
Love never fails. But where there are prophecies, they will cease; where there are tongues, they will be stilled; where there is knowledge, it will pass away. For we know in part and we prophecy in part, but when perfection comes, the imperfect dissapears. When I was a child, I talked like a child, I thought like a child, I reasoned like a child. When I became a man, I put childish ways behind me. Now we see but a poor reflection as in a mirror; then we shall see face to face. Now I know in part; then I shall know fully, even as I am fully known.
And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is Love.."

As I embrace decades which passed, and trying to start painting blank pages ahead...
Jakarta, about 2 mths before 21th January.

Wednesday, September 24, 2014

Catatan 24 kosong 9

Logika.

Kawan, apa itu agama?
Gnostic saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari lingkup dan bingkai yang sempurna.

Kawan, apa itu ambisi?
Mimpi saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari batas dan tingkap yang harus diterjang.

Kawan, apa itu cerita?
Kata dan narasi saja tidak cukupkan logikamu yang haus konteks dan pengakhiran.

Kawan, apa itu cita?
Harapan dan proses saja tidak cukupkan logikamu yang haus apresiasi dan tanda seru.

Kawan, apa itu pernyataan?
Mimpi dan realita saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari jawaban segala pertanyaan.

Kawan, apa itu ekspresi?
Gestur dan pertanda saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari kepastian dari lingkungan relatif.

Kawan, apa itu terapan?
Simbol dan laku saja tidak cukupkan logikamu yang kebingungan mencari makna.

Kawan,
...

Kawan,
Kala mencipta - apakah Tuhan merapal agama?
Kala mengimaji - apakah kita tidak mengumbar ambisi?
Kala hening - apakah kita minor cerita?
Kala berdoa - apakah kita melupakan cita?
Kala bernafas - apakah kita tidak menyatakan hidup?
Kala berdiam - apakah kita kekurangan ekspresi?
Kala berkreasi - apakah kita kehilangan makna?

Kawan,
Apa itu logika?
Mengapa ia sulit sekali dicukupkan?

Kawan,
Tolonglah sahabatmu ini yang juga melogika... dan bertanya tentang itu-itu juga.

...............dari balkon sejuk yang mengintip kota menuju lelap, bersama secangkir kafein dan magnum yang hampir habis.
Malang, 240914

Saturday, February 8, 2014

2013 dalam Semalam (1: karya, dan cerita)

Tangan-tangan Yos Sudarso
Dok. Pribadi
Petang, di teras terbuka dengan kamera di tangan dan secangkir kopi jahe yang cepat sekali dingin. Jari-jariku memutar bolak-balik sebuah hasil jepretan siang tadi. Tahun ini dimulai dengan pertanyaan tentang mimpi dan kenyataan; tentang arah pasti dan kemapanan, tentang tantangan dan janji yang menunggu dipenuhi. Ada tangan-tangan yang dipuaskan, ada rute-rute yang terlewati, dan janji-janji yang terbukti. Mimpi tentang kota-kota masa depan melintas seperti kenyataan yang dikondisikan: dicetus dari pikiran, diurai dalam bagan, diceritakan seperti lukisan, dibukukan lalu terlupakan sampai tiba lagi waktunya. Eksperimen dimulai dan dihentikan, dimulai dan diulangi. Di atas kertas, Jakarta seperti ladang berpenyakit kronik dan langka: rangkaian masalah, tingkah polah, dan kadang-kadang hanya jutaan jiwa yang dipikir mendesak butuh rumah. Proyek-proyek berganti cerita, dan wajah lama berganti baru. Ada tangan-tangan yang menggapai kepayahan, dan tangan-tangan yang melambai dari seberang. Di belakang semuanya, ada aku - dan egoku yang membuatku bertahan di jalanan Jakarta yang anomali.

Malam, di kursi yang terlalu empuk dan lagi secangkir kopi yang terlalu cepat dingin. Di ruwetnya otak yang sering kali membingungkan, kota ini menantang seperti sasaran tembak yang diam tak bergerak. Jakarta itu laboratorium mimpi. Dengan masalahnya sendiri yang penuh konflik dan anomali, kota ini menarik untuk dikuliti. Mimpi-mimpi terkuliti; mulai mengeruh di bawah leburnya peluh, cangkir-cangkir kopi, dan sepinya embun pagi. Dan sementara sebuah mimpi tentang hari esok mulai mendekati masa tenggatnya, 5 bulan ini aku berkutat dengan realita yang membuka ladang tantangan. Dari sana, satu persatu peluruku tepat sasaran. Hari-hari panas berlalu dengan cepat; hari-hari basah berlalu dalam berita. Lalu petang, lalu pagi - dan lagi-lagi, hari berganti: 24 jam yang selalu terasa terlalu singkat. Lalu suatu ketika - tengah tahun bahkan entah di mana, dan otakku hangus oleh polusi. Tak ada lagi irama, atau dentang makna- semua tertekan rutinitas yang membius di atas waktu dan usaha. Satu-persatu warna berlalu: dalam bisu, dalam gaduh, dalam rangka dan cerita. Aaaaahhh.... mungkin terlalu banyak cangkir-cangkir kopi menumpuk di otak kiri.... Di latarnya, kota ini menatap sambil menelanku bulat-bulat.

Dini hari, di atas ranjang dingin yang sulit sekali dihangatkan dan lampu redup yang kubiarkan menyala. Tentang satu hal, Jakarta menutup mataku dengan apresiasi: walau entah itu murni - atau keberhasilan yang terlalu dilebih-lebihkan. Tahun ini ditengahi oleh prestasi, kesempatan yang terbuka, dan luapan tantangan yang menggiurkan. Mempertanyakan batas diri sendiri memang seperti candu berdosis tinggi; dan kota ini memfasilitasinya seperti bandar yang baik hati. Dari pertanyaan tentang kemampuan, hingga permainan pencapaian. Anomalinya tak lagi begitu berarti - ketika ia membuatku menagih yang bisa diraih, dan memberi lebih-lebih. Dari satu cerita, lalu tantangan, lalu impian - dan kemudian... ... mungkinkah pembuktian? Ada tangan-tangan yang menahan, dan tangan-tangan yang menawarkan bantuan. Ada tangan-tangan yang menopang, dan tangan-tangan yang bergelayutan. Dan di sana aku - dari kepayahan hingga kegirangan, lalu berulang dan kembali lagi; masih di jalanan Jakarta yang anomali ... ...

Garut, 281213 ... ... Lembang, 010114 ... ... sambil menikmati malam dan segarnya embun pagi.