| Tangan-tangan Yos Sudarso Dok. Pribadi |
Malam, di kursi yang terlalu empuk dan lagi secangkir kopi yang terlalu cepat dingin. Di ruwetnya otak yang sering kali membingungkan, kota ini menantang seperti sasaran tembak yang diam tak bergerak. Jakarta itu laboratorium mimpi. Dengan masalahnya sendiri yang penuh konflik dan anomali, kota ini menarik untuk dikuliti. Mimpi-mimpi terkuliti; mulai mengeruh di bawah leburnya peluh, cangkir-cangkir kopi, dan sepinya embun pagi. Dan sementara sebuah mimpi tentang hari esok mulai mendekati masa tenggatnya, 5 bulan ini aku berkutat dengan realita yang membuka ladang tantangan. Dari sana, satu persatu peluruku tepat sasaran. Hari-hari panas berlalu dengan cepat; hari-hari basah berlalu dalam berita. Lalu petang, lalu pagi - dan lagi-lagi, hari berganti: 24 jam yang selalu terasa terlalu singkat. Lalu suatu ketika - tengah tahun bahkan entah di mana, dan otakku hangus oleh polusi. Tak ada lagi irama, atau dentang makna- semua tertekan rutinitas yang membius di atas waktu dan usaha. Satu-persatu warna berlalu: dalam bisu, dalam gaduh, dalam rangka dan cerita. Aaaaahhh.... mungkin terlalu banyak cangkir-cangkir kopi menumpuk di otak kiri.... Di latarnya, kota ini menatap sambil menelanku bulat-bulat.
Dini hari, di atas ranjang dingin yang sulit sekali dihangatkan dan lampu redup yang kubiarkan menyala. Tentang satu hal, Jakarta menutup mataku dengan apresiasi: walau entah itu murni - atau keberhasilan yang terlalu dilebih-lebihkan. Tahun ini ditengahi oleh prestasi, kesempatan yang terbuka, dan luapan tantangan yang menggiurkan. Mempertanyakan batas diri sendiri memang seperti candu berdosis tinggi; dan kota ini memfasilitasinya seperti bandar yang baik hati. Dari pertanyaan tentang kemampuan, hingga permainan pencapaian. Anomalinya tak lagi begitu berarti - ketika ia membuatku menagih yang bisa diraih, dan memberi lebih-lebih. Dari satu cerita, lalu tantangan, lalu impian - dan kemudian... ... mungkinkah pembuktian? Ada tangan-tangan yang menahan, dan tangan-tangan yang menawarkan bantuan. Ada tangan-tangan yang menopang, dan tangan-tangan yang bergelayutan. Dan di sana aku - dari kepayahan hingga kegirangan, lalu berulang dan kembali lagi; masih di jalanan Jakarta yang anomali ... ...
Garut, 281213 ... ... Lembang, 010114 ... ... sambil menikmati malam dan segarnya embun pagi.