I will not walk with your progressive apes, erect and sapient...

if by God's mercy progress ever ends,

and does not ceaselessly revolve the same

unfruitful course with changing of a name.


...Then looking on the Blessed Land 'twill see,

that all is as it is, and yet made free...

~J.R.R. Tolkien~


As a fire when kindled

makes fuel into ash,

so the fire of wisdom

makes actions into ash.

~Bhagavad Gita 4:37~

Saturday, February 8, 2014

2013 dalam Semalam (1: karya, dan cerita)

Tangan-tangan Yos Sudarso
Dok. Pribadi
Petang, di teras terbuka dengan kamera di tangan dan secangkir kopi jahe yang cepat sekali dingin. Jari-jariku memutar bolak-balik sebuah hasil jepretan siang tadi. Tahun ini dimulai dengan pertanyaan tentang mimpi dan kenyataan; tentang arah pasti dan kemapanan, tentang tantangan dan janji yang menunggu dipenuhi. Ada tangan-tangan yang dipuaskan, ada rute-rute yang terlewati, dan janji-janji yang terbukti. Mimpi tentang kota-kota masa depan melintas seperti kenyataan yang dikondisikan: dicetus dari pikiran, diurai dalam bagan, diceritakan seperti lukisan, dibukukan lalu terlupakan sampai tiba lagi waktunya. Eksperimen dimulai dan dihentikan, dimulai dan diulangi. Di atas kertas, Jakarta seperti ladang berpenyakit kronik dan langka: rangkaian masalah, tingkah polah, dan kadang-kadang hanya jutaan jiwa yang dipikir mendesak butuh rumah. Proyek-proyek berganti cerita, dan wajah lama berganti baru. Ada tangan-tangan yang menggapai kepayahan, dan tangan-tangan yang melambai dari seberang. Di belakang semuanya, ada aku - dan egoku yang membuatku bertahan di jalanan Jakarta yang anomali.

Malam, di kursi yang terlalu empuk dan lagi secangkir kopi yang terlalu cepat dingin. Di ruwetnya otak yang sering kali membingungkan, kota ini menantang seperti sasaran tembak yang diam tak bergerak. Jakarta itu laboratorium mimpi. Dengan masalahnya sendiri yang penuh konflik dan anomali, kota ini menarik untuk dikuliti. Mimpi-mimpi terkuliti; mulai mengeruh di bawah leburnya peluh, cangkir-cangkir kopi, dan sepinya embun pagi. Dan sementara sebuah mimpi tentang hari esok mulai mendekati masa tenggatnya, 5 bulan ini aku berkutat dengan realita yang membuka ladang tantangan. Dari sana, satu persatu peluruku tepat sasaran. Hari-hari panas berlalu dengan cepat; hari-hari basah berlalu dalam berita. Lalu petang, lalu pagi - dan lagi-lagi, hari berganti: 24 jam yang selalu terasa terlalu singkat. Lalu suatu ketika - tengah tahun bahkan entah di mana, dan otakku hangus oleh polusi. Tak ada lagi irama, atau dentang makna- semua tertekan rutinitas yang membius di atas waktu dan usaha. Satu-persatu warna berlalu: dalam bisu, dalam gaduh, dalam rangka dan cerita. Aaaaahhh.... mungkin terlalu banyak cangkir-cangkir kopi menumpuk di otak kiri.... Di latarnya, kota ini menatap sambil menelanku bulat-bulat.

Dini hari, di atas ranjang dingin yang sulit sekali dihangatkan dan lampu redup yang kubiarkan menyala. Tentang satu hal, Jakarta menutup mataku dengan apresiasi: walau entah itu murni - atau keberhasilan yang terlalu dilebih-lebihkan. Tahun ini ditengahi oleh prestasi, kesempatan yang terbuka, dan luapan tantangan yang menggiurkan. Mempertanyakan batas diri sendiri memang seperti candu berdosis tinggi; dan kota ini memfasilitasinya seperti bandar yang baik hati. Dari pertanyaan tentang kemampuan, hingga permainan pencapaian. Anomalinya tak lagi begitu berarti - ketika ia membuatku menagih yang bisa diraih, dan memberi lebih-lebih. Dari satu cerita, lalu tantangan, lalu impian - dan kemudian... ... mungkinkah pembuktian? Ada tangan-tangan yang menahan, dan tangan-tangan yang menawarkan bantuan. Ada tangan-tangan yang menopang, dan tangan-tangan yang bergelayutan. Dan di sana aku - dari kepayahan hingga kegirangan, lalu berulang dan kembali lagi; masih di jalanan Jakarta yang anomali ... ...

Garut, 281213 ... ... Lembang, 010114 ... ... sambil menikmati malam dan segarnya embun pagi.