I will not walk with your progressive apes, erect and sapient...

if by God's mercy progress ever ends,

and does not ceaselessly revolve the same

unfruitful course with changing of a name.


...Then looking on the Blessed Land 'twill see,

that all is as it is, and yet made free...

~J.R.R. Tolkien~


As a fire when kindled

makes fuel into ash,

so the fire of wisdom

makes actions into ash.

~Bhagavad Gita 4:37~

Sunday, August 7, 2011

Antara Satu Juli


Lepas pantai, bertemu langit di selembar daun lontar
Berbayang kisahmu, separuh cahaya lalu.

Lepas pantai, rengkuh nafas beradu lengkung cummulus
Berangan ragamu, separuh cahaya lalu.

Di antara lapis waktu dan harum mentari pagi,
nafas mengalun, karya sempurna yang berulang sekali lagi
Di antara jangkrik dan kicau kenari,
Ada perjanjian tentang dini hari
Dan di sana beras keluar dari padi, bukan misteri.

Untuk mimpi dan setakar imaji,
bahkan rumput hanya butuh embun pagi
Untuk mimpi dan setakar imaji,
Nafasmu bergulir dari Sang Empunya hari
Di lembar lain, antara garis globalisasi dan Satu Juli

Antara Satu Juli, dan beberapa Satu Juli.
Antara Satu Juli, dan beberapa jalur mimpi

...

Lepas pantai, bertemu langit di selembar daun lontar
Luruhkan kisahmu, separuh cahaya lalu.
Dan bila di sana kuasmu siap melagu,
Di balik langit aku menatapmu,
Antara Satu Juli dan bintang yang memandu.

BCN, Juli 2011

A Way Back


Going around, around and around
The point of no return, and yet

Going round, and round, and round
The point of anxiety, and yet

Going through, and through, and through
From the finish to the start.

Open a window, and blow
Break a vow, and blow
O please forgive me My Lord
And yet, wake me up with a thunderbolt

Open a window, and blow
Break a vow, and blow
Take too long to burnt,
And yet, raise the fire and don't you turn

Grab the pain and paint the waste
Crawl, walk, run, and tie up the waist

No lines, no walls, no mountain too high
Only mind that's need to be freed out of sigh
This miles ahead and behind,
And lesson to learn, out of discouragement abide.

Now fly,and make it worth,
Out of borders, and rebirth..,
To a way back - that is nowhere.

BCN, March 2011

Of Hatred


There is time when we realize the true weight  to be hated,

There is time when we realize that sometimes hatred are needed

There is time when we'll be strong enough, to swallow the hatred, and be still.

There is time when we'll be wise enough, to take the blame, and wait.

For sometimes,
someone might only be survived by hatred in their heart
For sometimes,
There is time for hatred, when the truth is too hard

There is shadow, beyond any light
There is shadow, because of light
For hatred could only be survived,
When there's love that cannot be deprived.

There is time for hatred,
And it's not something for granted
There is price for hatred,
That can never be neglected

There is time and there is hatred
And there we are,
with seeds to be planted.

BCN, 14 February 2011

Catatan 21 kosong 1



[Click for English version]

Aku mencoba menuliskan nada dengan kata-kata
Karena nada pertama yang kudengar pagi itu

Aku mencoba menuliskan nada dengan kata-kata
Karena nada-nada yang kudengar petang ini

Di atas keringnya musim dingin,
di atas hijaunya daun pinus yang bertahan,
di bawah birunya langit yang membuatku bermimpi,
Melodi bertandang seperti tukang pos dengan sekerat kabar baik

Aku mencoba menuliskan nada dengan kata-kata
pesan yang keluar dari melodi
yang membuatku tetap bangun dan bernafas pagi ini
Rahmat, harapan, dan damai
yang mengetuk pintuku tiap pagi

Aku meretas syukur dan melantun kata
Aku meretas melodi dengan kata-kata
di halaman pertama sebuah bab baru

Di sana, kicau burung dan nyanyian jangkrik melagukan cerita
tentang hari ini, kemarin atau esok lusa.
Hingga bila nanti aku mati,
pusaraku lengkap dengan mimpi.
.................................................................................BCN, Jan2011

Torehan Tajam di Kepala


Kadang aku ditendang,
Karena tak maju aku tanpa penantang.

Kadang aku dihajar,
Karena tak bangun aku tanpa memar.

Lebam dan ngeri di kepala,
Lecutkan lariku untuk berhenti terlena.

Teriak dan desir halus menggeratak,
Menarikku paksa untuk bertolak.

Tak ada letih yang tak berakhir, tak ada pikir yang tak berbuih.

Ringkas!
Buncah!
Tandaskan arah pada garisnya!!

Rengkuh!
Penuh!
Hancurkan ragu dan peluh palsu!!

Dan hening.
Hening itu selalu membangunkanku lebih kukuh
Menelanjangiku,
dan memberiku melodi baru.

Jauh dari rutinitas yang membelenggu,
Jauh dari rantai penantian semu.

Setapak baru menginkarnasi pelita,
begitu terang nyaris membuatku buta,
Balutan suara-suara membisikkan makna,
begitu nyaring hingga menelan bising.

Di ujung sana,
Stimulus ini bergelora menjadi karya.

..............................................................................Barcelona, November 2010

Risk


Sometimes, when the time is right..,
It would be next, it would be hurt, but it would be bright.

When we all jump, when we both dried,
It would be dark, it would be lame, but surely worth it.

For the world we knew now, facts and perceptions..,
They're swift, they're noised, they're full of expectations.

What formerly new will only last a drop of dew..,
what formerly bad will surely turn great.

In time, we all last forever..
In time, we vanished from the land of prayer.

Jealousy and hate,
or ways of survival.
coz' we are still human, creatures of imperfections....

..........................................................................................................Lembang, okt 2010
[It's like watching my brain being wiped out from my head, and my mind being flushed from my brain... ~chaotic intertwining thoughts~]

Segelas Nyawa dan Rangkai waktu

Seperti ada yang hilang
Lalu stimulus yg menyambar hipotalamus secepat kilat.

Clak.. Clak.. Kau sadar ada yang salah..
Clak.. Clak.. Nyawa yang menetes keluar..

...
Bau hangus dan amis baur seperti besi ditempa,
Kilat transparan dan serabut halus di pupil membuka lebar,
Sekelibat desing metal.,

Lalu tersadar.

Zsrraaatttt.. Refleks yang logis.

Merah, merah..
Tenaga pertama meraih lap dan meraup tetes-tetes itu..
Menyimpan perangkat dan mencari bebat..
Alangkah naif..

Merah.. Merah..

Lalu air dingin,

...Dan tersadar.

Merah.. Merah darah.

....Barcelona, 150810

Widaningrum Adisaputra

Teriring doa, dan selamat jalan....
".....karena sengsara-Nya yang menyedihkan,
kasihanilah kami dan seluruh dunia..."

Engkau menjawabku,
begitu singkat, begitu cepat

Engkau menjawabku
begitu ringkas, begitu padat

Air mata menetes, saat mendaras kalimat-Mu baginya
sengsara-Mu, sengsaranya,
tak lagi kukenali air mata ini untuk siapa.
dan memori tentang mereka,
jiwa-jiwa yang melihatku dari sana.

Engkau menjawabku,
untuknya, dan dia.

Engkau menjawabku,
pertanyaan bodohku yang setiap kali sama.

Air mata menetes, saat berharap bisa berbuat
emosiku, emosinya
tak lagi kukenali air mata ini untuk siapa.
dan memori tentang mereka,
jiwa-jiwa yang kukasihi dari sini.

Engkau menjawabku,
dari dering itu aku sudah tahu.

Engkau menjawabku,
dini hari ini aku memuji-Mu.

Bukan lagi air mata, untuknya yang lepas dari sengsara
sengsara-Mu, sengsaranya,
kesadaran membawaku merangkai kata
karena hanya itu yang kupunya
dan sekilas duka cita

Engkau menjawabku,
raguku kini sirna.

Engkau menjawabku,
tiada terlambat, tidak juga lebih cepat.

Bukan lagi air mata, dan kuharap juga untuk mereka
emosiku, emosinya
kesadaran ada juga dalam suaranya
mungkin jauh dari kelegaan,
namun hanya penyerahan

Pada-Mu, semua kan berserah,
maka sampaikan salamku, yang kutahu Engkau selalu.
maka sampaikan niatku, yang kutahu Engkau pun tahu.
maka sampaikan melodiku, saat kupanjatkan ini pada-Mu..
dan sekuntum mawar putih, untuknya di samping-Mu.
Barcelona, 14 Juli 2010

Lupa?


Ketika Dunia terlalu berwarna, kadang kita lupa pada awal dan akhir segala warna.
Ketika Dunia berputar terlalu cepat, kadang kita lupa pada yang membuatnya tetap di tempat.
Dunia kita tempat yang terlalu singkat, dan kita mencernanya terlalu lambat.
Bila kita berhenti mengunyah lalu menelaah, "klang..klang.." Mungkin suara itu tak ada lagi di tempat sampah.

Kita punya seperempat abad masa mengenal, setengah abad masa belajar, dan tiga perempat abad masa berbuat. Bila itu belum cukup, ada separuh abad lagi untuk bertanya.
Di akhir waktu nanti, kita akan belajar untuk bercerita.
Sastrawan, relawan, pelukis, pemahat, pebisnis, pekerja, pemusik, pemikir, hingga pengangguran; sebuah buku sudah dibuka untuk kita.

Ketika dunia berkata terlalu lelah, kita tertawa tergelak-gelak. Tapi nanti, ketika tangan ini sudah jadi tanah, tawa kita tak lagi akan melelahkan dunia.


Lembang, Maret 2010

Enggan Menapak

Kesadaran menguap di panasnya mimpi, dan mengembun dalam diam.
Patah-patah, wacana demi wacana hadir dan menghilang.., seperti layar perak yang membawa cerita naik turun.
Hanya satu yang tertinggal: keengganan untuk berlari mengejar waktu, dan rutinitas yang terlalu sepi.
Hanya satu yang terngiang: kerinduan untuk diam dan terbang mengembara, dalam ringannya kata-kata dan ramai abstraksi yang bergelimang di relung mimpi.
... ... Jangan bangunkan aku dulu
Biarkan aku terpisah sejenak dari raga yang menuntut dan ujud materi penghimpit waktu.
... ... Jangan bangunkan aku dulu
Biarkan aku bergumul dengan surga idea dan membuncahkan wacana yang mempertanyakan Gaia.

Karena aku mencari satu kata
Dan aku belum bergerak untuk bercerita..

Karena aku menepi dari rangkai cita manusia
Dan mengelukan rasa.., hingga mendahaga.


Lembang, 2 Maret 2010 - dini hari selagi masih juga tidak membumi..

Jangkrik Rakus di Kotak 10cm

Menggeliat lalu meloncat, walau tak ada keinginan untuk keluar.
Baginya dunia hanya sebesar kotak 10cm., semacam lumbung yang baginya melegakan.
Entah bulan dan matahari, atau batu karang di kali., entah gajah entah jerapah, apalagi hiu dan rajawali.
Keping remah dan kulit kotak jadi acuan, tak lain tak bukan yang kelihatan.
Dengan sebilah sungut terhunus, dan ego yang merajalela.
Senjatanya tradisi, dan daur ulang yang terakurasi.

Menggeliat lalu meloncat, walau tak ada keinginan untuk keluar.
Sehari, sebulan, setahun atau seabad., tak ada waktu di kotak 10cm.Sekubang, sekolam, sedanau atau selautan., tak ada batas di kotak 10cm.
Hanya kengerian, akan dinamika yang tidak biasa.
Hanya ketakutan, akan kehilangan sekerat keuntungan.
Menggertak kutu yang lewat, menyerang jangkrik yang datang dari luar.
Menutup mata membungkam telinga, asal mulut berucap dan perut kekenyangan.

Menggeliat lalu meloncat, walau tak ada keinginan untuk keluar.
Menggeram kelimpungan dan saling bertabrakan., asal dapat makanan.

Jangkrik-jangkrik rakus dalam kotak 10cm.,

Tak pernah berhenti kekenyangan walau nanti pasti mati.


Jakarta, 2 Februari 2010., menyelami rakusnya manusia-manusia yang puas diri..

Hari Anomali dan Kata Tertahan


Mungkin hanya harap menggantung terlalu tinggi
Sejauh awan yang hanya sayup kutatap menjauh
dan senja merah di bawah bayang halimun yang kelabu

Mungkin hanya mimpi yang lewat terselami
Dalam renung yang jauh kutapaki
dan teduhnya hari menawarkan jejak pelangi

Hari ini
Mimpi yang berbuih lebur di arus kencang yang mengombak
Harap yang berpijar redup di balik teriak tak sempurna

Hari ini
syukurku menguap bersama nafas yang terbarukan
langitku malam yang gelap tanpa bulan

Ini anomali…
Tak pernah kutemui diriku berbayang seremuk ini
atau langgam tanpa bentuk yang seolah mengunciku rapat

Ini anomali…
dunia kelabu yang ragu dengan luap kemarahan
atau lenyap keyakinan diburu lagu yang bisu…

… … Alangkah aneh hari-hari pengantar usia
yang sedianya mengantar nafas dan harapan
dan seharusnya dicambangi senyum penuh syukur… …

Hanya hari ini… …, ini anomali…
Apakah suara ini terlalu dalam?
Atau tak lagi mampu ku menahan di kedalaman?
Sedang aku tak pernah belajar untuk keluar
dan mulai bercerita… …

Lembang, 21 Januari 2010, di kedalaman pikiran sendiri yang terlalu berlebihan…

Seorang Anak dengan Yesus di Hatinya


Aku heran.
Kalian melihatku seperti aku ini aneh; aku tak mengerti.

Aku heran.
Mereka yang menampungku di kardus di pinggir jembatan itu, aku dari sana.

Aku heran,
Seheran mereka yang selalu membelalakkan mata jijik melihatku.
Beribu pertanyaan ada di benakku, siapa kah mampu menjawabku?

Kenapa???
Kata ayah aku buangan orang, kata bunda itu bohong.
Mereka berteriak sepanjang waktu, hampir rubuh kardus tempatku tidur.

Kenapa???
Kemarin kudengar kampung sebelah dibakar orang
Kemarin kudengar polisi mengamuk bawa peluru.

Kenapa???
Sering kulihat kakak-kakak berjingkrak-jingkrak di jalanan
Bendera di kiri, parang di kanan.
Polisi dari jauh galak-galak bawa pentungan.

Kenapa???
TV di rumah Pak RT ribut sekali
Katanya hari ini, di luar negeri perang ganas lagi
Katanya hari ini, orang baik dihukum lagi
Aku heran, dan tak ada yang menjawabku.

Sebulan ini hanya adik kecil yang jadi temanku.
Walau kata bunda aku tidak punya adik.
Bicaranya lembut, menenangkan
Walau kukira Ia terlalu kecil untuk bisa bicara.

Pakaian-Nya selalu bersih, terlalu putih untuk kupegang.
Walau kata-Nya aku bebas memeluk-Nya

Adik kecil lebih pintar dari mereka semua
Kakek-kakek, nenek-nenek, dan semua yang sudah dewasa

Karena Adik,
Aku bisa berbincang dengan burung gereja,
Dan berterimakasih pada rumput kecil di pinggir kardusku

Karena Adik,
Aku tahu dunia itu indah,
Bila kita melihatnya demikian.

Karena Adik,
Aku tahu aku ini anak Bapaku,
Walau masih lama sampai aku bisa melihat-Nya.

Karena Adik,
Aku tahu kalian semua orang baik,
Atau orang-orang yang akan jadi baik.

Malam ini istimewa,
Ia bilang, Ia ingin jadi teman bagi lebih banyak orang.
Ia bilang, Ia akan mulai dengan kalian.
Karena itulah,
Aku mengantar-Nya ke sini, untuk kalian…

Lembang, 17 Desember 2009
Untuk Bahan Kontemplasi
Simbolisasi Natal
“Cinta Datang dari Tempat yang Paling Hina”
Misa Malam Natal, Gereja Paroki St. Maria Fatima - Karmel, Lembang
24 Desember 2009

Hening Suara-Mu

Sentuhan Gaia membentuk rupa.. ketika tetes-tetes bening itu tertimpa mentari senja..
Warna bumi pun merona, semburat merah melatari rangkaian hijau kebiruan..
Inilah semesta., nafas kehidupan yang membuat nyawa membara..
Di tengahnya.. kami menatap terpesona..

Ibu, aku anakMu yang mencoba menelaahMu..
Dari kedalaman udara kudengar sapaMu..
Hening SuaraMu mengalun menghapus dahagaku..

Ibu, aku anakMu yang mencoba memandangMu..
Dari kelegaman malam kunikmati kalimatMu..
Hening suaraMu mendayu memuaskan jiwaku..



Bandung, 2009

Segenggam Perhatian

Udara dingin menyambutku, keengganan yang tak lagi ada bersamaku.
Serangkai kata di mulutku, hanya keheningan yang sama menyelimutiku.
Melanglang pikirku tak bisa kuredam, hanya separuh nyawa yang setia pada raga.
Selebihnya, langit pun tahu ibu bumi tak mungkin mencegahku., tak juga embun., atau hujan badai.

Lama aku diam, di bawah sebuah pelita yang menenangkan.. Karena terlalu damai duniaku, yang tertulis di selembar keinginan.
Langka kini apresiasi, yang tulus merengkuh ranah mimpiku..
Dan bila suatu hari nanti bumiku melandai, aku pun larut dalam ringan.. melayang..

Sahabatku, panggilanmu menyentuhku seperti embun pagi menyentuh tanah.. Lingkaran ini suatu hari akan penuh, dan kita tak lagi akan mengerti ke mana kita melangkah.

Sahabatku, hangat mentari melarutkan kita yang merajah tanah dengan impian.. Dan kesadaran pun menghanyut ditampar cita-cita..

Pada malam yang bisu aku mengecap untaian niatmu., dari sebatang tongkat kayu atau hembusan nafas yang kaku..

Dari tanah yang jauh semilir mendatangimu, untuk selaraskan asa dan sejukkan rasa..
Hanya segenggam perhatian tak mungkin ditanggalkan., dan mata yang dalam, diam telanjang..



Bandung, 2009

Hanya Potongan Nada


Tak seucap kata
Tak sepenuh nafas
Lirih mengembang perbincangan di angan-angan
Sesuatu yang tak lagi baru

Patah-patah berirama,
di tengah balutan kabut tebal itu
potongan nada menghampiri,
sementara purnama berliku,
seperti fajar yang melompat tak tentu…
mendandaniku.

Di ujung patahan nada ini, diriku yang satu beradu dengan ragu
Dunia yang sama tetap ada menungguku
Dengan ideologi yang membuatku bisu
Di ujung patahan nada yang lain, diriku yang satu beradu dengan lugu
Dunia yang mekar meninggalkan sangkar
Dengan kehalusan yang membuat gemeletar

Hanya potongan nada
Yang masih membungkusku di sini
sedang hati di lain bumiku menunggu
untuk beradu… melagu.

Bandung, 2009

Kembali Kosong


Semua diawali ketikamencoba melebarkan pandangan dan mencari horizon yang tepat.
Di suatu putaran menit, tawa manusia berlagu seperti yang lalu dan yang akan jadi baru.

Lagu berubah, melodiku berubah.
Karena aku bosan dengan ambitus oktaf manusia.

Nada merendah, melodi meninggi,
Karena aku muak dengan ambitus oktaf manusia.

Aku bosan dengan ambitus oktaf manusia
Maka aku pun keluar.

Di keremangan ini, hanya ada aku, dan serumpun ambitus oktaf yang luhur. Melodi yang bersahutan, mengantarku menyelami lini muai ibu bumi.
Di keheningan ini, ada ritme yang tenang tapi riuh rendah.

Aku terbuka, aku membuka pintu ke mana saja.
Aku terbuka, aku membuka semua jendela dalam ikatan atom yang kudiami selama nafas.
Aku terbuka, karena manusia tak lebih dari partikel indah yang mengalun jadi melodi.

DI buaian melodi yang lugu dan jujur ini, aku terbuka.
Dan orgasme yang sempurna tercipta,ketika aku luruh, lebur di kedalaman buaian sang ibu bumi. Melodinya yang halus, tajam dan jujur… itu yang membuatku kosong; dan sekali lagi jadi bejana.
…………………………………………………………………………………………………………..
Di kejauhan, suara mereka lirih terdengar, tak pernah menghilang. Di kejauhan, aku masih jadi bagian dari hiruk-pikuk ratio dan arogansi sebuah populasi besar yang mengaku diri: manusia.

Bandung, 5 September 2009; di sebuah kursi taman di antara siluet pinus yang diterangi purnama.

Lingkaran di Langit dan Segenggam Tanah Basah


Ada yang berteriak,
lalu hening………

Ada yang menggelegar,
Lalu hening……….

Keriut wajah pagi menatapku tanpa ragu. Karena angin pun tak muncul hari ini, dan matahari enggan menampakkan wajahnya yang bulat gemuk. Keheningan muncul seperti pencuri di malam hari, di tengah hiruk-pikuk mereka yang mencari sekerat roti.
Keriut wajah pagi menatapku tanpa ragu. Dentum dan raung mesin kalah lagi oleh keheningan yang menyusup. Mereka tak pernah ragu berjalan di atasku; tidak kemarin, tidak juga hari ini. Ibu menyuruhku untuk diam dan menunggu, juga mereka, saudara-saudaraku.
Seperti kemarin, dan hari-hari yang lewat dari mimpi. Hanya sekelumit kisah yang berhasil bertahan hingga hari ini. Gelimpang mayat bercampur lumpur dari kapal-kapal pesiar, bau amis darah dari pisau para pembunuh, teriakan mereka yang terhempas ombak hingga ke gunung. Bunyi kelapa yang jatuh dari pohonnya oleh anak-anak pantai, bau harum roti pertama yang masak di panggangan, lantunan harmoni mereka yang menyapa semesta.
Tapi kilau mentari yang jatuh di kulitku tetap sama. Sejuknya butir-butir embun yang menyapaku juga sama. Sapuan angin Timur yang membawa daun kering, deras air hujan yang membuat cekungan di dagingku berkelok tajam, atau gelitik semut-semut yang mencari kehangatan. Semua sama.
Hanya pagi ini, seperti sebuah pagi waktu itu, atau pagi-pagi lain yang telah lalu. Aku melihat lingkaran di wajah ayah. Dan ibu menyuruhku untuk diam menunggu waktu. Juga mereka, saudara-saudaraku. Aku mendengar gelegar dan raungan seketika, lalu hening panjang….
Waktu bergulir, dan akupun kembali basah.
………………………………………………………………………………………………………….
(Ibu berbisik padaku… untuk diam dan menunggu. Karena semua akan berlalu, dan kami yang diam dan menunggu… akan selalu bertahan)

Lembang, Juli 2009...untuk jiwa-jiwa yang hilang di Jakarta.

Untuk Sahabat


Jangan keluarkan kalimat itu kawan,
Jangan biarkan aku kehilangan satu lagi kebaikan
Jangan keluarkan kalimat itu kawan,
Jangan biarkan rasa yang deras memutus persahabatan
Tak perlu buku ataupun guru
Bagiku untuk mengecap sekeping rasamu
Menggeratak halus tapi setajam peluru
Tak perlu telaga ataupun samudera
Bagiku untuk menampung segala rasa
Yang tertumpah dari bibir bejana
Namun nyala dalam nadimu yang membahana itu
Aku tak mampu menerimanya
Walau tak juga aku mampu menguncinya
Atau menahan lengkingannya yang konstan membuana
Maka seperti telaga
Aku hanya selalu mengindera
Mengecap sekelibat demi kelibat rasa
Dan mencoba menahan ombaknya
Maka wahai jiwa buana,
jangan ucapkan kata yang terlalu deras mengombak
di airku yang terlalu tenang

Mari bersama tetap mengelana
dan hanya mengecap sekeping rasa
Karena kulihat jiwamu yang begitu haru
mampu merengkuhku tanpa butuh tali palsu
Karena engkau sahabatku
dan kuingin tetap begitu…

Lembang, Agustus 2009

Sepuluh Dunia dan Sepotong Roti Kasar


Sepuluh dunia berkejaran di sekitar kita. Mereka yang bijak, mereka yang culas, mereka yang cerdik, mereka yang polos, mereka yang tulus, mereka yang pamrih, mereka yang lurus, mereka yang menyimpang, mereka yang gerah dan mereka yang sabar. Dengan kesungguhan atau kelemahan, semua berkelindan, membentuk formasi yang tidak terlihat, tapi ternyata.
Sepuluh dunia berkejaran di sekitar kita. Mereka yang besar, mereka yang kecil, mereka yang hitam, mereka yang putih, mereka yang dingin, mereka yang panas, mereka yang tinggi, mereka yang pendek, mereka yang tegak dan mereka yang sempoyongan. Dengan kegembiraan atau kesedihan, semua berkelindan, membentuk formasi yang riuh rendah, tapi tak bergerak.
Sepuluh dunia berkejaran di sekitar kita. Demi sepotong roti tawar, sepotong baguette, sepotong croissant, sepotong pratta, sepotong pizza, sepotong lavash, sepotong chapati, sepotong tortilla, sepotong injera atau sepotong oatcake. Dengan keliatan atau kekosongan, hanya pergumulan energi, sepotong roti kasar, tapi seharga nyawa.

Bandung, 2009

Mimpi


Sebongkah emas bermimpi menjadi batu kali
Dalam hujan dan badai atau panas terik angannya menari.
Bila suatu saat nanti ia mati
Hanya satu bayangan ujudnya reinkarnasi…

Di bayang kelabu keheningan yang merasuki
Hanya selembar benang merah dan peti tua menemani
Tempatnya mengeluh dengan berani
Tentang rasa jenuh yang menghantui

Di ujung mimpi yang selalu terlalu tinggi
Ia bersyukur pada cahaya surgawi
Merengkuh nirmala yang datang dan pergi
Mencoba ramah dan selalu menikmati…

Sebongkah emas serupa batu kali
Tak mampu siapapun menyelami
Kilaunya menggoda di balik keheningan yang menyelimuti
Menunggu sang penempa yang mampu menguliti…

Lembang, 2009

Mereguk Lelah


Celah sempit membuka
Sebuah keseragaman yang dipaksa jadi satu
(Di ujung bentangan tali ini, sebuah makna terkait dengan lelah pada niat dan antipati rasa yang meremang)

Celah sempit membuka
Kumpulan semburat terjalin jadi satu, seolah punya hati
(Di titik ini, sel-sel itu merancah kerasukan sambil bergema tanda setuju)
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
Ia bermimpi tentang sebuah dunia di mana di dalamnya ia ada. Tanpa keselarasan yang diperlukan dunia itu berputar, membentuk jalinan benang di sekeliling dirinya. Dengan sadar iamemejamkan matanya lalu mengucap puji, namun lepas dari syukur yang selalu mengemuka.

Kosong
Sebuah kehampaan yang melegakan

Kosong
Lalu jadi berwarna

Kosong
Hempasan jiwa yang begitu terasa

Sebuah titik nol, dari titian panjang berikutnya…

What Have We Done?


What have we done?
From the fragility we came, upon the greatness of nature
Digging deeply through the soil and crawling high up to the sky

What have we done?
Singing a song of torture, always to ourselves
Dreaming night and day, always’bout despair

What have we done?
Looking always to mirrors,but never through it
Telling truth always to others, but never to ourselves

Here, in this particular place and time
The wheel we spin are sewing the thread to a marvelous piece of silk
But we ignore it, always.

What have we done?

Bandung, 2009

Yang Indrani


Anugerah datang tanpa permisi, tanpa ketukan di pintumu
Mungkin karena itu, sering kau merapuh
Menganggapnya tamu tak diundang
(Pecahan kulit kerang beradu dengan butiran pasir, namun yang kita lihat satu)

Dentang di telingamu kadang tak berhenti
Dan tetap kita kokoh mengangkangi
Barisan sakit hati yang tak bisa lagi pergi
(Selembar daun bambu jatuh di atas riak air, namun yang kita dengar satu)

Seringkali kejutan menamparmu
Hingga kau juga berkelit ketika anugerah itu mengejutkan
(Dan kilau lembayung yang menggelora selalu kita rasa satu)

Lembang, 2009

Nafasmu, Nafasku, dan Inkarnasi Semesta


Detikmu detikku
Waktu merangkai kita seperti jalinan benang rajutan
Sama ringan, sama berpilin
(Di luar sana, seekor kepik melebarkan sayapnya)

Bumimu bumiku
Bunda merengkuh kita yang haus mereguknya
Sama sejuk, sama tersenyum
(Di seberang sana, lumut biru melekat pada kokohnya batu gunung)

Langkahmu merajah tanah
Di sana, jejak memudar tapi rupanya tetap

Aku, seperti ribuan makhluk lainnya
Mencium, mengecap
Makhluk-makhluk kelaparan yang haus arahan…

Setiap kali itu,
Hembusmu panjangkan hembusku,
Naungan yang sempurna…
(Di kerindangan kehijauan, sebutir telur menunggu waktu)

Di ranah ini kita selami
Separuh misteri yang kita kecap setiap hari
Dari kilau mimpi hingga nyata embun pagi
Tentang tangis bayi dan senyum mereka yang mati
Di ranah ini kita selalu jadi
Mereka yang mencoba mengerti…

Nafasmu nafasku
Retas murni semesta dan bunyi inkarnasi
(Di atas sana, Ia tersenyum selalu mengerti)
……………………………………………………………………………………………………………………..

Apa yang terjadi ketika hari berganti?Ketika malam mencapai puncaknya, bulan mencapai ketinggiannya, dan separuh semesta mencapai transfigurasi dirinya? Apa yang terjadi ketika kita bernafas? Ketika aku, kamu, dia, cacing tanah, mawar di taman, dan ikan-ikan di kolambernafas? Apa yang terjadi ketikaseseorang terbangun setelah berkelana di kedalaman dirinya?
Bandung, 21 Januari 2009.

Bias_02


Secangkir kopi pekat hasil seduhan pertama, beberapa tarikan panjang dan hembusan ringan sebatang rokok di tangan, dan akupun siap terbangun, bangkit dari mimpi.
Mimpiku sudah terlalu panjang;mimpi-mimpi berbahasa lugas yang jadi terlalu jelas. Mimpiku sudah terlalu jelas; mimpi-mimpi tentang harapan dan cita yang tak mungkin lari dariku– dariku dan urat-urat yang menjalari tubuhku seperti penyakit kronis. Penyakit kronis yang menggerogotiku habis. Habis, sebagaimana rangkaian nada yang terngiang dalam mimpiku: tentang aku dan rasa tentangmu.
Pada suatu rangkai kala yang kita makna, mimpiku jadi cermin keangkuhan cita — antara rasa dan arogansi semata. Pada kala yang sama itu pula, aku lupa pada bahasa — dan kehilangan kata-kata. Karena seperti kau tahu, kata-kata hanya jadi malapetaka ketika terucap tanpa makna. Ketika arogansi mengemuka menjadi makna, dan kau pun tersesat di tengah aliran kata, tanpa bahasa. Dan ketika aku melihat bias dalam matamu, aku pun terpaku di tempatku, meragu dengan pikirku.
Lalu pikirku, pena sang pujangga mungkin mencapai akhir torehannya. Ingatkah aku kini tentang awal kisah yang ditulisnya? Atau aku hanya bermimpi tentang kisah yang terbaca dengan terbata-bata? Karena kini aku tak lagi melihat bedanya.
Mimpiku sudah terlalu jelas kataku — hingga membias, seperti matamu di dalamku. Seperti rasa dan pikirku — dan seperti bahasaku, semua lebur dalam inkarnasi tanpa batas. Hanya aku, kosong seperti bejana tanah liat yang baru menjadi rupa. Hanya aku, dan tinggal bahasaku yang kini menyatu. Hanya aku, dan bias kala itu — dalam pikirku.

……………………………………………………………………Lembang, 2009. Selagi mengapresiasi “Bias” (by M. Tulus) di teras belakang rumah dengan secangkir kalosi Toraja.