I will not walk with your progressive apes, erect and sapient...

if by God's mercy progress ever ends,

and does not ceaselessly revolve the same

unfruitful course with changing of a name.


...Then looking on the Blessed Land 'twill see,

that all is as it is, and yet made free...

~J.R.R. Tolkien~


As a fire when kindled

makes fuel into ash,

so the fire of wisdom

makes actions into ash.

~Bhagavad Gita 4:37~

Wednesday, March 6, 2019

Catatan 7 kosong 3

Dok. Pribadi

Rangkai kersen bergeming di bawah hujan
Daunnya mengayun meluruhkan embun
Bercanda dengan cempaka,
Bercengkerama dengan kenanga,
Memperhatikan kamboja yang menganga

Warnanya ria,
karena puring kuning dan merah menyala

Rintik pekat yang jatuh menjelang siang
Merengkuh perlahan, mengulurkan tangan
Memeluk dengan senyuman,
Tanpa perlu suara, atau bunyi nyata

Pada bentuk ria yang sunyi di lembah sana
Kabut menyapa, memberikan nada
Hingga wangi samar lalu keluar
Dari ujung-ujung yang gemeruyung
Dan gemeretak kulit yang terbuka

Wanginya ria,
Karena tanah basah dan batu yang membuncah

Suaranya ria,
Walau sepenuhnya sunyi

Dan di atas, di bawah, di antara
Hijau daun, rengkuh semilir dan wangi tanah basah
Sang Empunya meretas maknanya,
Pada semesta, untuk kepenuhan hari lalu
Dan kelegaan hari baru
Dalam haru.

Payogan, Kadewatan - 1 çaka 1941, di teras yang sejuk dengan rintik hujan dan kabut melembah.

Saturday, February 9, 2019

Catatan 10 kosong 2


Deras, rasa itu merangsek masuk
Merengkuh pelan, tapi mendesak
Mengetuk perlahan, tapi menelanjangi

Di kedalaman yang lain, gemeretak terdengar jelas
Lingkaran tebal berlapis itu tidak luruh, tapi tersentuh

Deras, rasa itu melingkupi penuh
Jelas terlihat, walau tertahan
Terang terburai, walau gemulai

Di kedalaman yang lain, gemeretak terdengar sayup
Membentengi lebih tebal, sambil tetap penasaran

Terlalu lama
Yang terapuh itu dibentengi
Kata-kata, nada, dan logika

Terlalu lama
Yang terapuh itu dipagari
Rutinitas, tanggung jawab, dan lintas makna

Di kedalaman yang jauh, yang terapuh tertidur pulas
Tanpa takut, tanpa resiko, tanpa warna

Namun makna itu merangsek masuk,
Setelah sekian lama ia dibentengi
Setelah sekian lama ia dibatasi
Mengetuk dan menyapa "halo, ada orang di sini?"
Dan menunggu setiap hari

Hingga gemeretak itu terdengar jelas

….ada yang lepas.

Bandung, 10 Februari 2019: Di pagi hari yang terlalu panjang dengan buncahan memori tentang makna dan kata-kata.

Tuesday, August 23, 2016

Have you ever feel like you could see the air?

Have you?
I was having coffee with a very good friend of mine when I first asking this kind of question to someone other than myself.  I asked her the question just because I've just experienced the sensation a morning before.
The city was Barcelona, the year was 2011; and we were sipping ou coffee, with delightfully sweets companion, and totally random conversation. Lina, my friend by then - looked me in the eyes and said, "Agnes! I think I could only having this mystical talks with you. I will miss our conversation!" That's all I can remember of her exact words that time. Mystical? Maybe. Maybe not. She's an Arab from Beirut, Lebanon. I am a Chinese, probably an eleventh Sundanese from Bandung, Indonesia. We're having coffee in Barcelona, Spain; and talking in English about seeing the air. THAT in a whole I would call mystical.
But then again, have you ever feel like you could see the air? Well I have. Not because the heat; you know- when you see the air moves on the account of that heat. Not because an aerosol sprays - or having sunrays slipping through the windows that you can see the dust in it. I didn't see the dust nor vaporizing liquid in the air. I think I see the air. Just the air. Room temperature, normal, transparent air. I wasn't drunk, I didn't even drink a night or an hour before. I usually in my normal condition, and alone. I mean - it happens usually when I'm alone. Sometimes I think I see it when my senses are totally relaxed - or perhaps it's so.
In totally relaxed condition; focus only in present time, place and condition - there I see it. Gleaming, floating, transparent, and real. When I realize it; a glimpse of distraction would make it dissappear. That is when I truly conscious about why they say the outerspace is dark, without the air.
From time to time, this has became my therapy habit. A habit I try to exercise when stressful routines bind me from seeing everyday's simple lovely things. I don't know if what I saw was really the air, and I don't care - to be honest. I just don't care. I will have that as my own way to find peace, an inner peace within me. Without knowing, I begin to have this 'new' routine often in my quality-alone-time:
 Sit still, take no look, and breathe
Just be there, be here, and now
There you see: the floating air. 
 (Please excuse my haiku - as I'm totally a beginner)

And I remember having similar sensation in my writings couple years ago:
Ketika ini terjadi, kita akan mengenali ribuan rasa dari segelas air putih; mengecap sesendok nasi dan membedakan rasanya dengan lauk yang kita makan. Mengunyah sekerat roti gandum dan menikmati butiran halus seratnya menggesek tekstur lidah kita; atau merasakan nikmatnya gula merah yang sudah lebur jadi satu dalam sepotong kue jahe' 

So, have you? Have you ever feel like you could see the air? Tell me when you do. I might not be your friend or anything, but I'll be listening if you let me. This is not meant to be an invitation or anything; this is just a thought.


Jakarta, August 2016 

Sunday, November 16, 2014

Chronological Songs of My 3 Decades

  1. Your Heart Will Lead You Home - Kenny Loggins
  2. Words - Bee Gees
  3. Smile - n/a
  4. For the First Time - Kenny Loggins
  5. Fire - Des'ree/ Babyface
  6. She - Elvis Costello
  7. Mahadewi - PADI
  8. Jim Brickman - Valentine
  9. December - Kenny Loggins
  10. If You Don't Know Me by Now - Simply Red
  11. This Love - n/a
  12. If - Susan Wong
  13. Cold, Cold Heart - Norah Jones
  14. For the First Time - Rod Stewart
  15. Have I Told You Lately that I Love You - Rod Stewart
  16. Say - John Mayer
  17. The Heart of Life - John Mayer
  18. Brave - Josh Groban
  19. That's All - Rod Stewart
  20. Harmony - PADI
  21. P.E.S.A.N - discus
  22. Sunrise - Norah Jones
  23. Menari Bumi - 4 Peniti
  24. India Arie - Summer
  25. Sempurna - Jubing Kristianto
  26. Indonesia Pusaka - n/a
  27. You are Loved - Josh Groban
  28. Mirando tus Ojos - Nino Josele
  29. Hibari - Ryuichi Sakamoto
  30. Detik Hidup - Iwan Abdulrachman
  31. Energy Flow - Ryuichi Sakamoto
  32. Somos Novios - Andrea Bocelli/ Katherine McPhee
  33. Gitana - Shakira
  34. Your Body is a Wonderland - John Mayer
  35. Mizu no Naka no Bagtelle - Ryuichi Sakamoto
  36. Riverside - Agnes Obel
  37. Te Necesito - Hombres G/ Dani Martin
  38. Ramo Verde - Uxia
  39. Englishman in New York - Sting
  40. Bandung - Sundanese Healing
  41. Melati Suci - n/a
  42. Tu Gitana - Luar Na Lubre
  43. She - Il Divo
  44. I'll Stand by You - Rod Stewart
  45. Nada te Turbe - (St. Teresa de Avila)
  46. Home - John Steven
  47. A Jeanne d'Arc - Pierre Eliane
  48. La Venta del Alma - Nino Josele
  49. If You Don't Know Me by Now - Rod Stewart
  50. Gaia - Valensia
  51. Bumi Indonesia - Kahitna
  52. Morning Rain - Jubing Kristianto
  53. Make Love to Me Tonight - Rod Stewart
  54. Longer - n/a
  55. She's always a Woman - Jubing Kristianto
  56. Have I Told You Lately that I Love You - Rod Stewart
  57. December - Norah Jones
  58. Galileo - Josh Groban
  59. Little Sparrow - David Cook
  60. Si Volvieras a Mi - Josh Groban
  61. Pure Love - Rod Stewart
  62. Love Never Fails - Amy Sky/ Jim Brickman
...and a message clear to my ear:
"If I speak in the tongues of men and of angels, but have not love, I am only a resounding gong or a clanging cymbal. If I have the gift of prophecy and can fathom all mysteries and all knowledge, and if I have a faith that can move mountains, but have not love, I am nothing. If I gift all I possess to the poor and surrender my body to the flames, but have not love, I gain nothing.
Love is patient, Love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.
Love never fails. But where there are prophecies, they will cease; where there are tongues, they will be stilled; where there is knowledge, it will pass away. For we know in part and we prophecy in part, but when perfection comes, the imperfect dissapears. When I was a child, I talked like a child, I thought like a child, I reasoned like a child. When I became a man, I put childish ways behind me. Now we see but a poor reflection as in a mirror; then we shall see face to face. Now I know in part; then I shall know fully, even as I am fully known.
And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is Love.."

As I embrace decades which passed, and trying to start painting blank pages ahead...
Jakarta, about 2 mths before 21th January.

Wednesday, September 24, 2014

Catatan 24 kosong 9

Logika.

Kawan, apa itu agama?
Gnostic saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari lingkup dan bingkai yang sempurna.

Kawan, apa itu ambisi?
Mimpi saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari batas dan tingkap yang harus diterjang.

Kawan, apa itu cerita?
Kata dan narasi saja tidak cukupkan logikamu yang haus konteks dan pengakhiran.

Kawan, apa itu cita?
Harapan dan proses saja tidak cukupkan logikamu yang haus apresiasi dan tanda seru.

Kawan, apa itu pernyataan?
Mimpi dan realita saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari jawaban segala pertanyaan.

Kawan, apa itu ekspresi?
Gestur dan pertanda saja tidak cukupkan logikamu yang cenderung mencari kepastian dari lingkungan relatif.

Kawan, apa itu terapan?
Simbol dan laku saja tidak cukupkan logikamu yang kebingungan mencari makna.

Kawan,
...

Kawan,
Kala mencipta - apakah Tuhan merapal agama?
Kala mengimaji - apakah kita tidak mengumbar ambisi?
Kala hening - apakah kita minor cerita?
Kala berdoa - apakah kita melupakan cita?
Kala bernafas - apakah kita tidak menyatakan hidup?
Kala berdiam - apakah kita kekurangan ekspresi?
Kala berkreasi - apakah kita kehilangan makna?

Kawan,
Apa itu logika?
Mengapa ia sulit sekali dicukupkan?

Kawan,
Tolonglah sahabatmu ini yang juga melogika... dan bertanya tentang itu-itu juga.

...............dari balkon sejuk yang mengintip kota menuju lelap, bersama secangkir kafein dan magnum yang hampir habis.
Malang, 240914

Saturday, February 8, 2014

2013 dalam Semalam (1: karya, dan cerita)

Tangan-tangan Yos Sudarso
Dok. Pribadi
Petang, di teras terbuka dengan kamera di tangan dan secangkir kopi jahe yang cepat sekali dingin. Jari-jariku memutar bolak-balik sebuah hasil jepretan siang tadi. Tahun ini dimulai dengan pertanyaan tentang mimpi dan kenyataan; tentang arah pasti dan kemapanan, tentang tantangan dan janji yang menunggu dipenuhi. Ada tangan-tangan yang dipuaskan, ada rute-rute yang terlewati, dan janji-janji yang terbukti. Mimpi tentang kota-kota masa depan melintas seperti kenyataan yang dikondisikan: dicetus dari pikiran, diurai dalam bagan, diceritakan seperti lukisan, dibukukan lalu terlupakan sampai tiba lagi waktunya. Eksperimen dimulai dan dihentikan, dimulai dan diulangi. Di atas kertas, Jakarta seperti ladang berpenyakit kronik dan langka: rangkaian masalah, tingkah polah, dan kadang-kadang hanya jutaan jiwa yang dipikir mendesak butuh rumah. Proyek-proyek berganti cerita, dan wajah lama berganti baru. Ada tangan-tangan yang menggapai kepayahan, dan tangan-tangan yang melambai dari seberang. Di belakang semuanya, ada aku - dan egoku yang membuatku bertahan di jalanan Jakarta yang anomali.

Malam, di kursi yang terlalu empuk dan lagi secangkir kopi yang terlalu cepat dingin. Di ruwetnya otak yang sering kali membingungkan, kota ini menantang seperti sasaran tembak yang diam tak bergerak. Jakarta itu laboratorium mimpi. Dengan masalahnya sendiri yang penuh konflik dan anomali, kota ini menarik untuk dikuliti. Mimpi-mimpi terkuliti; mulai mengeruh di bawah leburnya peluh, cangkir-cangkir kopi, dan sepinya embun pagi. Dan sementara sebuah mimpi tentang hari esok mulai mendekati masa tenggatnya, 5 bulan ini aku berkutat dengan realita yang membuka ladang tantangan. Dari sana, satu persatu peluruku tepat sasaran. Hari-hari panas berlalu dengan cepat; hari-hari basah berlalu dalam berita. Lalu petang, lalu pagi - dan lagi-lagi, hari berganti: 24 jam yang selalu terasa terlalu singkat. Lalu suatu ketika - tengah tahun bahkan entah di mana, dan otakku hangus oleh polusi. Tak ada lagi irama, atau dentang makna- semua tertekan rutinitas yang membius di atas waktu dan usaha. Satu-persatu warna berlalu: dalam bisu, dalam gaduh, dalam rangka dan cerita. Aaaaahhh.... mungkin terlalu banyak cangkir-cangkir kopi menumpuk di otak kiri.... Di latarnya, kota ini menatap sambil menelanku bulat-bulat.

Dini hari, di atas ranjang dingin yang sulit sekali dihangatkan dan lampu redup yang kubiarkan menyala. Tentang satu hal, Jakarta menutup mataku dengan apresiasi: walau entah itu murni - atau keberhasilan yang terlalu dilebih-lebihkan. Tahun ini ditengahi oleh prestasi, kesempatan yang terbuka, dan luapan tantangan yang menggiurkan. Mempertanyakan batas diri sendiri memang seperti candu berdosis tinggi; dan kota ini memfasilitasinya seperti bandar yang baik hati. Dari pertanyaan tentang kemampuan, hingga permainan pencapaian. Anomalinya tak lagi begitu berarti - ketika ia membuatku menagih yang bisa diraih, dan memberi lebih-lebih. Dari satu cerita, lalu tantangan, lalu impian - dan kemudian... ... mungkinkah pembuktian? Ada tangan-tangan yang menahan, dan tangan-tangan yang menawarkan bantuan. Ada tangan-tangan yang menopang, dan tangan-tangan yang bergelayutan. Dan di sana aku - dari kepayahan hingga kegirangan, lalu berulang dan kembali lagi; masih di jalanan Jakarta yang anomali ... ...

Garut, 281213 ... ... Lembang, 010114 ... ... sambil menikmati malam dan segarnya embun pagi.